
Kesultanan Banjar pada abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19 merupakan sebuah entitas politik yang mengalami dinamika kekuasaan sangat kompleks. Intervensi kolonial Belanda, konflik internal keluarga kerajaan, serta munculnya dualisme legitimasi—antara sultan de jure, de facto, dan proklamasi—mewarnai perjalanan sejarah Banjar hingga berujung pada penghapusan kesultanan secara sepihak oleh pemerintah kolonial pada tahun 11 JUNI 1860.
Awal Dualisme Kekuasaan: Sultan Banjar VIII
Pada masa Sultan Banjar VIII, kekuasaan terbelah antara:
- Sultan Tahmidullah I (Panembahan Tengah) sebagai Sultan De Jure, dan
- Panembahan Kusuma Dilaga sebagai sebagai Sultan Proklamasi.yang memproklamasikan diri sebagai Sultan memerintah singkat
Pembelahan ini menjadi preseden awal terjadinya konflik legitimasi yang terus berulang pada generasi berikutnya.
Sultan Banjar IX dan Konflik Proklamasi
Memasuki periode Sultan Banjar IX (1730–1734), kembali terjadi dualisme:
- Sultan Chamidullah / Hamidullah (Panembahan Kuning) sebagai Sultan De Jure memerintah singkat, dan
- Pangeran Mangkubumi Tamjidillah I, sebagai Sultan Proklamasi.yang memproklamasikan diri sebagai Sultan Sepuh dari Banjar.
Peristiwa ini mempertegas bahwa kekuasaan di Banjar tidak lagi semata ditentukan oleh garis keturunan, tetapi juga oleh kekuatan politik dan dukungan elite kolonial Belanda.
Sultan Banjar X: Masa Ketidakstabilan Berkepanjangan
Pada generasi Sultan Banjar X, konflik semakin kompleks:
- Sultan Muhammad Aminullah (Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah Muhammadillah I) sebagai Sultan De Jure, memerintah singkat (1759–1761).
- Sultan Tahmidillah II (Panembahan Batu / Sunan Nata Alam) sebagai Sultan Proklamasi.yang memproklamasikan diri sebagai Sultan
- Raja Kusan II (Pangeran Amir) sebagai Sultan De Facto memerintah singkat , yang kemudian tertangkap pada 14 Mei 1787 dan diasingkan ke Ceylon (Sri Lanka) oleh Belanda.
Dari Raja Kusan II inilah kelak lahir garis keturunan penting yang berhubungan langsung dengan Panhlawan Nasional Pangeran Antasari Berputri Hasiah dan dikawinkan dengan Sultan Wirakusuma II.
Sultan Banjar XI dan XII: Bayang-Bayang Kolonial
Pada Sultan Banjar XI, kembali terjadi perpecahan:
- Sri Sultan Amirul Mukminin Abdullah sebagai Sultan De Jure, memerintah singkat diasingkan ke Lampung,
- Sultan Sulaiman Rahmatullah sebagai sebagai Sultan Proklamasi.yang memproklamasikan diri sebagai Sultan
Kemudian tampil Sultan Adam (Sultan Banjar XII), Sultan De Jure terakhir yang relatif stabil, memerintah 1825–kematian 1 November 1857. Namun stabilitas ini hanya bersifat semu karena Belanda semakin mencengkeram urusan internal kesultanan.
Sultan Muda Banjar XIII
Pada masa Pangeran Ratu Sultan Muda Abdur-Rahman (1799–1852), muncul generasi penerus yang kelak menjadi tokoh sentral dalam tragedi akhir Kesultanan Banjar. Dari Sultan Muda inilah lahir beberapa putra yang memainkan peran penting:
- Putra ke-2: Gusti Wayuri → kelak Sultan Tamjidillah II di asingkan wafat di empang Bogor
- Putra ke-3: Pangeran Arya Kasoema → menjadi Adipati Raja kecil di Puruk Cahu (kini Kalimantan Tengah)
- Putra ke-4: Pangeran Wira Kasoema → kelak Sultan Wirakusuma II di asingkan wafat 1901 di cianjur jawa barat
- Putra ke-5: Gusti Andarun → kelak Sultan Hidayatullah II di asingkan wafat 1904 di cianjur jawa barat
Sultan Banjar XIV: Puncak Konflik dan Perang
Inilah periode paling menentukan dalam sejarah Banjar.
- Sultan Tamjidillah II (Al-Watsiq Billah)
Sultan De Jure (memerintah singkat 1857–1859), namun kebijakannya yang dekat dengan Belanda menimbulkan penolakan luas. - Sultan Hidayatullah II Halilillah
Diproklamasikan di Amuntai (1859–1862), namun tidak diakui oleh pemerintah kolonial Belanda, sehingga legitimasi politiknya ditolak secara formal. Penolakan ini memicu gejolak besar yang berujung pada Perang Fisabilillah Banjar. - Pangeran Ratu Anom Sultan Wirakusuma II Al-Watsiq Billah
Sebagai Sultan De Facto Banjar (1859–1862), beliau adalah:- Putra ke-4 Sultan Muda Abdur-Rahman
- Menantu Pahlawan Nasional Pangeran Antasari
- Pahlawan Nasional Pangeran Antasari Memiliki garis darah langsung dengan Raja Kusan II Pangeran Amir adalah Putra Sultan Banjar X Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah Muhammadillah I
bersamaan dengan penghapusan Kesultanan Banjar secara sepihak 10 juni 1860 Pangeran Ratu Anom Sultan Wirakusuma II Al-Watsiq Billah menjadi simbol perlawanan politik dan moral terhadap kolonialisme. Namun karena dianggap berbahaya oleh Belanda, beliau diasingkan ke Cianjur pada 3 maret tahun 1862

Penutup: Makna Historis Pangeran Ratu Anom Sultan Wirakusuma II Al-Watsiq Billah
Pangeran Ratu Anom Sultan Wirakusuma II Al-Watsiq Billah bukan sekadar figur bangsawan terakhir Banjar. Ia adalah:
- Representasi legitimasi dinasti Banjar,
- Penghubung genealogis antara Pahlawan Nasional Pangeran Antasari Memiliki garis darah langsung dengan Raja Kusan II Pangeran Amir adalah Putra Sultan Banjar X Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah Muhammadillah I, dan generasi akhir kesultanan,
- Simbol runtuhnya kedaulatan lokal akibat kolonialisme.
Pengasingannya Pangeran Ratu Anom Sultan Wirakusuma II Al-Watsiq Billah ke Cianjur pada 3 maret tahun 1862 menandai berakhirnya Kesultanan Banjar sebagai institusi politik, namun warisan sejarah dan perjuangannya tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Banjar hingga kini.